Pada zaman dahulu, hiduplah dua bersaudara
yang suka bermain gasing. Setiap hari mereka ditinggal oleh orang tua orang tua
mereka pergi ke ladang. Dua bersaudara ini dititipkan oleh orang tua mereka
pada orang tua yang tidak menikah. Setiap hari mereka selalu bermain gasing,
ketika mereka merasa lapar, mereka pulang ke rumah. Setibanya di rumah, mereka
membuka tudung saji, di dalamnya sudah disediakan nasi dan sayur oleh orang tua
mereka. Begitulah kegiatan mereka setiap harinya.
Pada suatu hari, ketika mereka sudah lapar
setelah bermain gasing, mereka pulang ke rumah. Seperti biasanya mereka
langsung membuka tudung saji. Tetapi ketika membuka tudung saji mereka tidak
melihat piring yang biasanya terisi nasi kini berisi gasing dan mangkuk yang
biasanya berisi sayur kini berisi tali gasing. Lalu berkatalah satu di antara
mereka
“Ngapa-ngapa orang tua kita nyiksa kita, kita
disuruh makan gasing, laparlah kita nanti”. Kata abangnya.
Mereka menyangka kalau yang mengisi tudung
saji dengan gasing dan tali gasing tadi adalah orang tua mereka. Padahal orang
tua yang tidak menikah yang mengasuh mereka tadilah yang menukarkan nasi dan
sayur yang disediakan orang tua mereka dengan gasing dan tali gasing. Tetapi
dua bersaudara ini menyangka yang berbuat demikian adalah orang tua mereka.
Maka marahlah mereka kepada orang tua mereka. Lalu abangnya mengajak adiknya
untuk membuat sayap.
“Kalau orang tua kita memperlakukakn kita
seperti itu, bagus kita buat sayap”, ajak sang abang kepada adik.
Lalu mereka pergi mencari daun bambu yang
kecil-kecil untuk membuat sayap, kemudian mencari getah kayu “pelayi” untuk
menempelkannya. “Dek, coba buat punyamu dulu” kata abang kepada adiknya.
Mulailah dua bersaudara ini menempelkan daun-daun bambu tersebut ke tangan,
badan dan muka adiknya. Setelah selesai semua bagian ditempel, lalu sang abang
meminta adiknya untuk mencoba terbang. “Purrrr” terbanglah sang adik.
“Oh dah bisa Dek, coba turun, sekarang
kita buat punya abang” kata abangnya pada adiknya.
Lalu turunlah adiknya untuk membantu
menempelkan daun bambu tersebut ke badan abangnya.
Setelah selesai punya abangnya ditempel,
mereka pun mencoba terbang bersama.
“Coba kita terbang sama-sama” kata
abangnya.
Purrrr, terbanglah mereka. Mereka pun
terus berlatih, mula-mula dari tempat yang rendah, makin lama makin mahirlah
mereka terbang, lalu mereka bertengger di dahan pohon.
“sekarang kita bisa pergi ke ladang, kita
liat mama dan bapak di ladang”. Kata abangnya. Lalu abangnya membuat suatu
kalimat “Kok ko ja’ beh dek, ja omo’ enggang, ama’ menjara’ ino’ menjiro”, kok
enggang.
Setelah sang abang mengucapka bagian “Kok
ko ja’ beh dek, ja omo’ enggang, ama’ menjara’ ino’ menjiro”, adiknya menjawab
dengan kok, kemudian abangnya menjawab lagi dengan jawaban “enggang”. Itulah
kata-kata yang diucapkan mereka sepanjang jalan ketika mereka terbang menuju
ladang orang tua mereka. Arti kata tersebut adalah, “nanti adek bilang kok,
abang bilang enggang, mama dan bapak menyiksa”.
Setelah sampai diladang orang tua mereka,
mereka hinggap di sebatang pohon yang besar, kemudian mereka mengelilingi
ladang orang tuanya sambil mengucapkan kalimat “Kok ko ja’ beh dek, ja omo’
enggang, ama’ menjara’ ino’ menjiro”, kok enggang.
Kedua orang tua mereka yang sedang bekerja
di ladang merasa heran dengan suara burung-burung yang aneh tersebut.
“Pak, ngapa suara burung tu macam suara
manusia ya? Katanya kita nyiksa mereka. Ndak kah itu anak kita” kata istri
bertanya pada suaminya.
“entahlah, kita pulang jag” kata suaminya
kepada istrinya.
Ketika orang tuanya pulang, dua bersaudara
yang telah menjadi burung tadi pun ikut pulang. Mereka selalu mengucapkan
kalimat “Kok ko ja’ beh dek, ja omo’ enggang, ama’ menjara’ ino’ menjiro”, kok
enggang sepanjang perjalanan pulang.
Setibanya di rumah, kedua orang tua mereka
membuka pintu rumah, mereka mencari kedua anaknya tersebut, dilihatnya di
kamar, tidak mereka temukan kedua anaknya. Burung yang tadi ikut pulang dari
ladang hinggap di atap rumah mereka.
Setelah mencari tetapi tidak menemukan
anak-anaknya, kedua orang tua tersebut baru menyadari bahwa memang anak
merekalah yang menjadi burung tadi.
“saja memang itulah anak kita, bagaimana
mereka bisa jadi burung, jadi burung Kok Enggang”. kata orang tuanya.
“Turun nak, turun, endak bapak dan mama
nyiksa kalian“ kata mama mereka meminta agar mereka turun dari atap.
“Kami ndak mau turun, memang kayak ginilah
kami sampai nanti kami tidak bisa kembali ke kalian lagi” kata satu di antar
burung tersebut.
“Kamu yang pandai memanjat, panjatlah
tangkap bawa turun anak kita” kata si istri menyuruh suaminya untuk memanjat ke
atap rumah untuk mengambil anak mereka.
Lalu mulailah suaminya memanjat ke atap,
tetapi malang nasibnya. Ia terjatuh lalu meninggal. Istrinya yang tidak bisa
memanjat lalu menangis karena tidak bisa membawa anaknya kembali, ia menangis
setiap hari, siang-malam. Lalu akhirnya ibu dari anak tersebut pun meninggal
karena sedih melihat anaknya menjadi burung. Kedua anak tersebut lalu menjadi
burung Enggang.