Cerita Kok Enggang

raymunduswendi | April 18, 2011 | |
Pada zaman dahulu, hiduplah dua bersaudara yang suka bermain gasing. Setiap hari mereka ditinggal oleh orang tua orang tua mereka pergi ke ladang. Dua bersaudara ini dititipkan oleh orang tua mereka pada orang tua yang tidak menikah. Setiap hari mereka selalu bermain gasing, ketika mereka merasa lapar, mereka pulang ke rumah. Setibanya di rumah, mereka membuka tudung saji, di dalamnya sudah disediakan nasi dan sayur oleh orang tua mereka. Begitulah kegiatan mereka setiap harinya.

Pada suatu hari, ketika mereka sudah lapar setelah bermain gasing, mereka pulang ke rumah. Seperti biasanya mereka langsung membuka tudung saji. Tetapi ketika membuka tudung saji mereka tidak melihat piring yang biasanya terisi nasi kini berisi gasing dan mangkuk yang biasanya berisi sayur kini berisi tali gasing. Lalu berkatalah satu di antara mereka
“Ngapa-ngapa orang tua kita nyiksa kita, kita disuruh makan gasing, laparlah kita nanti”. Kata abangnya.

Mereka menyangka kalau yang mengisi tudung saji dengan gasing dan tali gasing tadi adalah orang tua mereka. Padahal orang tua yang tidak menikah yang mengasuh mereka tadilah yang menukarkan nasi dan sayur yang disediakan orang tua mereka dengan gasing dan tali gasing. Tetapi dua bersaudara ini menyangka yang berbuat demikian adalah orang tua mereka. Maka marahlah mereka kepada orang tua mereka. Lalu abangnya mengajak adiknya untuk membuat sayap.
“Kalau orang tua kita memperlakukakn kita seperti itu, bagus kita buat sayap”, ajak sang abang kepada adik.

Lalu mereka pergi mencari daun bambu yang kecil-kecil untuk membuat sayap, kemudian mencari getah kayu “pelayi” untuk menempelkannya. “Dek, coba buat punyamu dulu” kata abang kepada adiknya. Mulailah dua bersaudara ini menempelkan daun-daun bambu tersebut ke tangan, badan dan muka adiknya. Setelah selesai semua bagian ditempel, lalu sang abang meminta adiknya untuk mencoba terbang. “Purrrr” terbanglah sang adik.
“Oh dah bisa Dek, coba turun, sekarang kita buat punya abang” kata abangnya pada adiknya.
Lalu turunlah adiknya untuk membantu menempelkan daun bambu tersebut ke badan abangnya.
Setelah selesai punya abangnya ditempel, mereka pun mencoba terbang bersama.
“Coba kita terbang sama-sama” kata abangnya.
Purrrr, terbanglah mereka. Mereka pun terus berlatih, mula-mula dari tempat yang rendah, makin lama makin mahirlah mereka terbang, lalu mereka bertengger di dahan pohon.
“sekarang kita bisa pergi ke ladang, kita liat mama dan bapak di ladang”. Kata abangnya. Lalu abangnya membuat suatu kalimat “Kok ko ja’ beh dek, ja omo’ enggang, ama’ menjara’ ino’ menjiro”, kok enggang.

Setelah sang abang mengucapka bagian “Kok ko ja’ beh dek, ja omo’ enggang, ama’ menjara’ ino’ menjiro”, adiknya menjawab dengan kok, kemudian abangnya menjawab lagi dengan jawaban “enggang”. Itulah kata-kata yang diucapkan mereka sepanjang jalan ketika mereka terbang menuju ladang orang tua mereka. Arti kata tersebut adalah, “nanti adek bilang kok, abang bilang enggang, mama dan bapak menyiksa”.
Setelah sampai diladang orang tua mereka, mereka hinggap di sebatang pohon yang besar, kemudian mereka mengelilingi ladang orang tuanya sambil mengucapkan kalimat “Kok ko ja’ beh dek, ja omo’ enggang, ama’ menjara’ ino’ menjiro”, kok enggang.
Kedua orang tua mereka yang sedang bekerja di ladang merasa heran dengan suara burung-burung yang aneh tersebut.
“Pak, ngapa suara burung tu macam suara manusia ya? Katanya kita nyiksa mereka. Ndak kah itu anak kita” kata istri bertanya pada suaminya.
“entahlah, kita pulang jag” kata suaminya kepada istrinya.
Ketika orang tuanya pulang, dua bersaudara yang telah menjadi burung tadi pun ikut pulang. Mereka selalu mengucapkan kalimat “Kok ko ja’ beh dek, ja omo’ enggang, ama’ menjara’ ino’ menjiro”, kok enggang sepanjang perjalanan pulang.
Setibanya di rumah, kedua orang tua mereka membuka pintu rumah, mereka mencari kedua anaknya tersebut, dilihatnya di kamar, tidak mereka temukan kedua anaknya. Burung yang tadi ikut pulang dari ladang hinggap di atap rumah mereka.
Setelah mencari tetapi tidak menemukan anak-anaknya, kedua orang tua tersebut baru menyadari bahwa memang anak merekalah yang menjadi burung tadi.
“saja memang itulah anak kita, bagaimana mereka bisa jadi burung, jadi burung Kok Enggang”. kata orang tuanya.
“Turun nak, turun, endak bapak dan mama nyiksa kalian“ kata mama mereka meminta agar mereka turun dari atap.
“Kami ndak mau turun, memang kayak ginilah kami sampai nanti kami tidak bisa kembali ke kalian lagi” kata satu di antar burung tersebut.
“Kamu yang pandai memanjat, panjatlah tangkap bawa turun anak kita” kata si istri menyuruh suaminya untuk memanjat ke atap rumah untuk mengambil anak mereka.
Lalu mulailah suaminya memanjat ke atap, tetapi malang nasibnya. Ia terjatuh lalu meninggal. Istrinya yang tidak bisa memanjat lalu menangis karena tidak bisa membawa anaknya kembali, ia menangis setiap hari, siang-malam. Lalu akhirnya ibu dari anak tersebut pun meninggal karena sedih melihat anaknya menjadi burung. Kedua anak tersebut lalu menjadi burung Enggang.

Share to

Facebook Google+ Twitter Digg
Comments
0 komentar:

Posting Komentar

Manusia akan berkomentar dengan bahasa yang baik, sopan, dan santun. Silakan berkomentar yang bersifat membangun. No Rasis, No SARA, No Long orang boleh.